program diet sehat cara mengobati penyakit diabetes

Kamis, 30 Juni 2011

Minum Kopi Sambil Makan Siang Mengurangi Risiko Diabetes

kopiMinum Kopi Sambil Makan Siang Mengurangi Risiko Diabetes - Menikmati kopi hitam (dengan sedikit gula) yang ditemani makan siang bisa mendapatkan keuntungan lebih dalam mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2. Tapi minum kopi di waktu lain tidak mempengaruhi risiko diabetes sama sekali.

Sebuah studi menemukan bahwa perempuan yang mengonsumsi setidaknya satu cangkir kopi ditambah dengan makan siang dapat mengurangi kemungkinan mengembangkan diabetes tipe 2 sekitar sepertiganya. Hal ini berlaku untuk kopi tanpa kafein dan kopi dengan kafein.

Sao Paolo, Menikmati kopi hitam (dengan sedikit gula) yang ditemani makan siang bisa mendapatkan keuntungan lebih dalam mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2. Tapi minum kopi di waktu lain tidak mempengaruhi risiko diabetes sama sekali.

Sebuah studi menemukan bahwa perempuan yang mengonsumsi setidaknya satu cangkir kopi ditambah dengan makan siang dapat mengurangi kemungkinan mengembangkan diabetes tipe 2 sekitar sepertiganya. Hal ini berlaku untuk kopi tanpa kafein dan kopi dengan kafein.

"Temuan ini sangat menyarankan bahwa hanya kopi yang dikonsumsi dengan makan siang saja yang dapat mengurangi risiko diabetes," ujar Dr Daniela S. Sartorelli dari University of Sao Paulo di Ribeirao Preto, Brasil, seperti dikutip dari Health24.

Telah banyak penelitian minum kopi yang dilakukan terkait dengan risiko rendah terkena diabetes tipe 2, tapi belum ada penelitian yang melihat apakah waktu mengonsumsi kopi juga bisa memiliki efek yang baik.

Dalam penelitian ini tim Sartorelli menganalisis 69.532 perempuan yang berusia antara 41-72 tahun dan waktu penelitiannya selama 11 tahun. Selama waktu itu didapatkan 1.451 perempuan terkena diabetes tipe 2. Secara keseluruhan perempuan yang mengonsumsi 3 cangkir kopi setiap harinya dapat mengurangi risiko terkena diabetes hingga 27 persen, tapi jika dikonsumsi dengan makan siang setiap harinya dapat mengurangi risiko diabetes sebesar 33 persen.

Efek minum kopi dengan makan siang hanya terlihat pada perempuan yang mengonsumsi kopi hitam, bukan kopi dengan susu atau tambahan lainnya. Karena pada penelitian ini perempuan yang mengonsumsi kopi dengan susu sangat sedikit, sehingga hasilnya belum terlalu jelas.

Sartorelli menyarankan meskipun minum kopi saat makan siang bisa mengurangi risiko diabetes, tapi seseorang juga harus memperhatikan makanan apa yang dikonsumsinya. Karena makanan yang dikonsumsi juga bisa mempengaruhi risiko terkena diabetes.

Para peneliti masih akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek apa yang menyebabkan minum kopi dengan makan siang dapat mengurangi risiko terkena diabetes. Hasil penelitian ini telah dilaporkan dalam American Journal of Clinical Nutrition.(detik health)

Tanda-tanda Terkena Diabetes

penyakit diabetesTanda-tanda Terkena Diabetes - Banyak pengalaman beberapa orang ketika buang air kecil lalu air seninya dikerubuti semut. Itu adalah salah satu tanda-tanda diabetes yang gampang diketahui. Tapi ada banyak lagi tanda-tanda diabetes yang perlu diwaspadai.

"Kalau seseorang pipisnya dikerubuti semut, itu bisa jadi tanda awal dari penyakit diabetes," ujar dr Dante Saksono H, SpPD, PhD, saat dihubungi detikHealth.

Kenapa bisa seperti itu?

Menurutnya, seseorang yang memiliki penyakit diabetes maka air seni yang dibuang masih mengandung gula. Ini terjadi karena ketika gula darah yang masuk ke dalam tubuh di proses oleh organ ginjal tidak terserap sempurna oleh tubuh. Kemudian akan dikeluarkan oleh tubuh melalui air seni atau pipis.

"Kalau kadar gulanya dalam darah tinggi, maka hasil saringannya sudah pasti masih mengandung gula atau bersifat manis," ujar dokter berusia 36 tahun ini.

dr Dante mengatakan sebenarnya diabetes melitus artinya adalah air mancur yang manis, dan air mancur disini dapat diartikan sebagai pipis atau air seni.

Penyakit diabetes adalah gangguan penggunaan glukosa yang terjadi di dalam tubuh. Diabetes tidak terjadi secara begitu saja. Sebelum seseorang didiagnosis menderita diabetes, mereka mengalami fase normal, lalu meningkat menjadi prediabetes dan akhirnya menderita diabetes.

Penyakit ini sering disebut dengan silent killer. Penyakit ini tidak langsung menyebabkan kematian tapi komplikasi yang dihasilkan dari diabetes ini bisa menurunkan kualitas hidup seseorang hingga berakhir dengan kematian.

Jika penderita diabetes bisa mengontrol kadar gula darahnya dengan baik, maka komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit ini bisa dicegah. Komplikasi dari diabetes ini bisa menyerang hampir seluruh organ tubuh manusia.

Tanda-tanda seseorang terkena diabetes seperti dilansir dari diabeteslibrary adalah:

1. Sering buang air kecil
Buang air kecil akan menjadi sering jika terlalu banyak glukosa dalam darah. Jika insulin (yakni hormon yang mengendalikan gula darah) tidak ada atau sedikit maka ginjal tidak dapat menyaring glukosa untuk kembali ke dalam darah. Kemudian ginjal akan menarik tambahan air dari darah untuk menghancurkan glukosa. Hal ini membuat kandung kemih penuh dan membuat seseorang sering pipis.

2. Sering merasa haus
Karena sering buang air kecil, Anda akan menjadi lebih sering haus, karena proses penghancuran glukosa yang sulit maka air di dalam darah tersedot untuk menghancurkannya. Sehingga seseorang perlu minum lebih banyak untuk menggantikan air yang hilang.

3. Berat badan turun cepat
Terutama terjadi pada penderita diabetes tipe 1 (faktor genetik). Pankreas pada penderita diabates berhenti membuat insulin akibat serangan virus pada sel-sel pankreas atau respons autoimun yang membuat tubuh menyerang sel-sel yang memproduksi insulin. Akibatnya tubuh akan kesulitan mencari sumber energi karena sel-sel tidak memperoleh glukosa. Kemudian tubuh mulai memecah jaringan otot dan lemak untuk energi sehingga berat badan terus menyusut.

Pada penderita diabetes tipe 2 (faktor perubahan gaya hidup), penurunan berat badan terjadi secara bertahap dengan peningkatan resistensi insulin sehingga penurunan berat badan tidak begitu terlihat.

4. Merasa lemah dan gampang kelelahan
Karena produksi glukosa terhambat sehingga sel-sel makanan dari glukosa yang harusnya didistribusikan ke semua sel tubuh untuk membuat energi jadi tidak berjalan. Karena sel energi tidak mendapat asupan sehingga orang akan merasa cepat lelah.

5. Sering kesemutan di kaki dan tangan
Gejala ini disebut neuropati. Terjadi secara bertahap dari waktu ke waktu karena glukosa dalam darah tinggi akan merusak sistem saraf. Pada penderita diabetes tipe 2 kejadiannya secara bertahap, dan orang-orang sering tidak menyadari bahwa itu salah satu pertanda. Kondisi gula darah tinggi kemungkinan telah terjadi beberapa tahun sebelum diagnosa. Kerusakan saraf dapat menyebar tanpa pengetahuan kita.

6. Penglihatan kabur, kulit kering atau gatal, sering infeksi atau luka dan memar, yang membutuhkan penyembuhan dalam waktu lama merupakan tanda-tanda lain dari diabetes.

Jika melihat ada tanda-tanda itu maka Anda punya alasan untuk khawatir soal diabetes.

Lalu komplikasi penyakit apa yang timbul dari diabetes?
Berikut adalah komplikasi penyakit dari diabetes:

1. Penyakit saraf
Penyakit saraf adalah komplikasi jangka panjang dari diabetes. Diperkirakan bahwa 60-70 persen penderita diabetes mengalaminya.

Penyakit saraf ini menyerang hampir semua sistem saraf di tubuh mulai dari yang ringan kram, nyeri kepala, sakit perut, punggung nyeri, tidak berkeringat. Hingga yang berat mengganggu sistem saraf pembulah darah seperti jantung hingga saraf di kelamin yang bisa menyebabkan impotensi serta gangren dengan risiko amputasi.

2. Penyakit mata (Retinopathy)
Karena penyempitan, pengerasan atau pemutusan pembuluh darah dan kapiler retina menyebabkan komplikasi serius yang dikenal sebagai retinopathy dan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan. Dua komplikasi yang parah adalah katarak dan glaukoma.

4. Penyakit kardivaskular (jantung)
Akibat memiliki tekanan darah yang tinggi dan melemahnya fungsi-fungsi otot jantung.

3. Penyakit ginjal
Karena memiliki tekanan darah tinggi membuat fungsi ginjal terganggu.

4. Hipoglikemia
Terjadi karena penderita diabetes harus mendapat suntikan insulin dalam tubuh. Jika kemudian insulin lebih banyak dibandingkan dengan jumlah gula darah akan membuat gula darah turun di bawah level normal, inilah yang dinamakan hipoglikemia. Hipoglikemia bisa membuat seseorang pusing, bingung dan kehilangan kesadaran atau pingsan.

4. Gangguan pencernaan
Seperti gangguan lambung, divertikulitis, gejala sindrom iritasi usus besar, sakit perut, sembelit, diare dan batu empedu.

5. Komplikasi di mulut
Seperti sering mengalami gigi copot terutama pada penderita diabetes tipe 1.

6. Mudah infeksi
Risiko terkena infeksi cukup tinggi seperti infeksi luka, influenza, infeksi pernafasan hingga TBC tulang.

7. Komplikasi kehamilan
Tingkat kematian bayi lebih tinggi pada ibu yang menderita diabetes.

8. Ketoasidosis (darah menjadi asam)
Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan sering kencing, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton.

Cara mudah mendeteksi diabetes:
1. Lihatlah apakah air seni yang didiamkan sebentar dikerubuti semut atau tidak. Jika dikerebuti semut adalah pertanda kandungan gula di darah tinggi yang dibuang melalui urine.

2. Gunakan kertas uristix yang banyak dijual perusahaan farmasi. Masukkan kertas uristix ke air seni jika kertas berubah warna maka itu pertanda ada gejala diabetes.

3. Diagnosis laboratorium untuk mengetes glukosa darah. Pengujian kadar glukosa darah dengan puasa jika hasilnya lebih besar atau sama dengan 126 mg/dl menunjukkan adanya diabetes(detikhealth)

Penderita Diabetes Jangan Makan Buah yang Di-juice

jusPenderita Diabetes Jangan Makan Buah yang Di-juice - Penderita penyakit diabetes militus (DM) boleh-boleh saja mengonsumsi buah-buahan. Namun, sebaiknya buah-buahan tersebut tidak dikonsumsi dalam bentuk juice.

"Masalahnya sekarang ini banyak yang 'memindahkan' buah menjadi juice. Nah, buah apa pun itu, kalau dibuat juice akan meningkatkan glukosa darah," kata Ketua Tim
Dokter Kepresidenan, Dr Aris Wibudi.

Hal itu disampaikan dia dalam ceramah kesehatan dengan tema 'Mungkinkah Hidup Tanpa Diabetes dan Bahagia Bersama Diabetes' di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan
Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Ibu Herawati Boediono juga hadir dalam acara ini.

Aris menyebutkan aneka buah yang aman dimakan oleh penderita penyakit gula darah tinggi. Aman dalam arti tidak meningkatkan kadar gula dalam darah. Buah-buahan tersebut misalnya belimbing, jambu merah, jambu air, pepaya, semangka, dan jeruk.

"Pisang itu sedikit tinggi, tapi tidak perlu terlalu khawatir," jelas pria yang berpangkat Brigjen ini.

Lebih dari itu, lanjutnya, penderita diabetes harus mengatur pola makan dengan sehat. Bila akan mengonsumsi makanan kemasan, ia mengimbau agar konsumen melihat daftar nutrisi yang ada di dalamnya.

Beberapa makanan, menurut Aris, memang dianjurkan untuk tidak dimakan. Namun, makanan tersebut dapat dimodifikasi komposisinya sehingga 'aman'.

"Orang diabetes itu nggak boleh sengsara. Ternyata kita bisa memodifikasi makanan. Jadi diakali. Supaya kadar gula tidak tinggi dikasih agar-agar misalnya," pungkasnya.(detikhealth)

Kopi dan Teh Bisa Mencegah Diabetes

teh kopiKopi dan Teh Bisa Mencegah Diabetes - Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit diabetes, mulai dari mengubah pola makan, olahraga hingga obat-obatan. Namun hasil analisis terbaru peneliti menyebutkan, cukup minum kopi atau teh saja bisa mengurangi diabetes.

Peneliti menganalisis hasil 18 studi yang melibatkan ratusan hingga ribuan orang partisipan. Studi tahun 2005 menyebutkan seseorang yang lebih sering minum kopi, kemungkinan kena diabetesnya sepertiga lebih rendah daripada mereka yang jarang minum kopi.

Dr Rachel Huxley dari The University of Sydney, Australia melakukan survei data tentang studi kopi dan teh sejak tahun 1966 hingga 2009 pada penderita diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 adalah diabetes yang dikaitkan dengan obesitas dan mempengaruhi 8 persen populasi Amerika.

Seperti dikutip dari Reuters, kesimpulan dari hasil analisis tersebut adalah, setiap cangkir kopi yang diminum seseorang bisa mengurangi risiko diabetes hingga 7 persen. Dari enam studi yang ada, diketahui bahwa mengonsumsi 3 hingga 4 cangkir kopi sehari bisa menurunkan risiko diabetes sampai 36 persen.

Sementara itu tujuh studi lainnya menunjukkan bahwa minum teh sebanyak 3 hingga 4 cangkir sehari bisa juga mengurangi diabetes hingga 18 persen. Peneliti menduga bukan hanya kafein yang membantu proses pengurangan risiko diabetes.

Kandungan lainnya dalam dua jenis minuman ini seperti magnesium, lignan (bahan mirip estrogen dalam tumbuhan) dan asam chlorogenic yang merupakan antioksidan bisa memperlambat pelepasan gula ke dalam darah setelah mengonsumsi makanan.

Percobaan klinis perlu dilakukan untuk memastikan kedua jenis minuman ini memang bisa jadi obat pencegah diabetes. Jika memang benar terbukti, tenaga medis mungkin akan memberi saran pada penderita diabetes untuk tidak sekedar olahraga dan mengurangi makan berlebih, tapi juga banyak-banyak minum kopi atau teh.

Tapi ingat, minum teh atau kopi ini sebaiknya dengan kadar gula sedikit, bukan seperti kebanyakan orang Indonesia yang biasa memberikan gula terlalu banyak.(detikhealth)

Kurus Bukan Jaminan Bebas Diabetes

kurusKurus Bukan Jaminan Bebas Diabetes - Salah satu faktor risiko diabetes melitus (DM) adalah kegemukan. Namun tidak berarti bahwa tubuh kurus benar-benar bebas risiko, sebab yang terpenting adalah komposisi lemak tubuh.

Ketua Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia, Dr. dr. Aris Wibudi, Sp.PD., KEMD membenarkan hal itu di acara bincang media dengan tema 'Nutrisi Seimbang untuk Cegah dan Atasi Diabetes', di Jakarta. Menurutnya, tubuh yang sehat adalah tubuh yang berotot.

"Makin banyak otot semakin baik, karena otot memberi pertahanan pada tubuh terhadap gangguan-gangguan metabolisme," ungkap Dr. Aris yang juga berdinas di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.

Ia mencontohkan, salah seorang temannya memiliki badan kurus, sangat takut makan dan menjalankan diet dengan sangat ketat. Meski demikian kadar gula darahnya tetap tinggi, karena dia jarang berolah raga. Orang itu kurus, tetapi tidak ada ototnya.

Karena yang dilihat adalah komposisi lemak, maka berat badan kadang tidak bisa menjadi patokan. Berat badan tinggi tidak masalah asal tidak berlebihan, dan memiliki lebih banyak otot daripada lemak.

"Sebagai contoh, berat badan Ade Rai tentu lebih tinggi dibanding saya. Tetapi saya punya ransel seperti ini, dia tidak punya," tambah Dr. Aris, sambil memegangi lemak di pinggang yang disebutnya 'ransel'.

Lingkar pinggang memang menunjukkan faktor risiko DM. Jika seorang pria memiliki lingkar pinggang di atas 90 cm, atau wanita memiliki lingkar pinggang di atas 85 cm, maka risikonya lebih tinggi untuk terkena DM.

Sedangkan untuk menghilangkan lemak, caranya cukup sederhana dan bisa dilakukan kapan saja. Berjalan kaki sebanyak 1.000 langkah setiap hari menurutnya sudah cukup untuk mengurangi risiko DM.

Memang tidak semua langkah bisa dihitung sebagai olahraga. Head of Division Nutrifood Research Center, Susana, STP, M.Sc., PDEng menilai, jalan-jalan di mall tidak termasuk olah raga karena terlalu santai.

"Jalan-jalan di mall itu terlalu santai. Sebentar-sebentar berhenti, toleh sana toleh sini. Yang seperti itu tidak efektif untuk menghilangkan lemak," kata Susana.

Sementara jika menggunakan treadmill, target denyut nadi permenit bisa dihitung dengan rumus: (220-umur)X 65%. Misalnya jika umurnya 55 tahun, maka perhitungannya adalah: (220-55) X 65% = 107,25/menit. Bisa juga dipermudah menjadi 107 hingga 108 per menit.

Untuk mencapai target tersebut, tidak boleh lebih dari 45 menit dalam satu hari. Patokannya jika saat treadmill sampai tidak bisa diajak ngobrol karena napasnya tersengal, maka itu berarti berlebihan. Demikian juga bila masih bisa bernyanyi dengan merdu, itu artinya masih kurang.(detikhealth)

Sayuran Berdaun Hijau Bisa Kurangi Risiko Diabetes

sayur hijauSayuran Berdaun Hijau Bisa Kurangi Risiko Diabetes - Selama ini masyarakat mengetahui bahwa cara untuk mencegah diabetes tipe 2 adalah mengurangi konsumsi gula. Kini peneliti Inggris menemukan bahwa konsumsi sayuran berdaun hijau juga bisa mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2.

Dalam sebuah analisis terhadap enam penelitian yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayuran, didapatkan bahwa sayuran berdaun hijau seperti bayam atau kubis memiliki pengaruh positif yang signifikan dalam hal mencegah diabetes.

Laporan penelitian yang dimuat oleh British Medical Journal (BMJ) didapatkan satu atau setengah porsi sayuran dalam satu hari bisa mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2 sebanyak 14 persen. Tapi para ahli tetap menyarankan masyarakat agar mengonsumsi 5 porsi sayuran dan buah setiap harinya.

Para peneliti dari Leicester University mengkaji data dari 220.000 orang dewasa. Didapatkan bahwa mengonsumsi buah dan sayur bisa mengurangi risiko diabetes tipe 2. Tapi jika seseorang mengonsumsi sayuran berdaun hijau termasuk brokoli dan kembang kol, maka pengurangan risiko yang terjadi jauh lebih signifikan. Tim peneliti menemukan mengonsumsi 106 gram sayuran berdaun hijau bisa mengurangi risiko sekitar 14 persen.

"Kita tahu bahwa asupan sayuran dan buah adalah suatu hal yang penting, tapi studi ini menunjukkan bahwa sayuran berdaun hijau menjadi sangat penting dalam hal mencegah diabetes tipe 2," ujar Profesor Melanie Davies, profesor pengobatan diabetes dari University of Leicester, seperti dikutip dari BBCNews, Jumat (20/8/2010).

Meski demikian belum dapat diketahui dengan jelas mengapa sayuran berdaun hijau lebih memberikan efek perlindungan. Namun para peneliti memperkirakan bahwa salah satu alasannya adalah kandungan antioksidan yang tinggi serta kadar magnesium yang tinggi.

Kini peneliti akan melakukan studi terhadap orang-orang yang memiliki faktor risiko tinggi terhadap diabetes tipe 2. Hal ini untuk melihat apakah meningkatkan asupan sayuran berdaun hijau bisa membantu mengurangi peluang seseorang yang berisiko tinggi terdiagnosis diabetes.

"Pesan untuk meningkatkan asupan sayuran dan buah tidak boleh hilang, meskipun sayuran berdaun hijau memiliki efek khusus terhadap pencegahan diabetes tapi sebaiknya masyarakat juga tetap mengonsumsi sayur dan buah lainnya," ujar Profesor Jim Mann dari University of Otago di Selandia Baru.

Setengah Porsi Sayuran Cegah Diabetes

sayurSetengah Porsi Sayuran Cegah Diabetes - Tubuh membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi dan akan menyimpannya dalam bentuk gula atau lemak jika ada kelebihan. Pada penderita diabetes melitus (DM), karbohidrat sebaiknya dibatasi dan diganti dengan lebih banyak sayuran.

Yang sering tidak disadari adalah bahwa nasi bukan satu-satunya sumber energi. Beberapa jenis makanan lainnya juga mengandung karbohidrat sebagai sumber energi misalnya keripik, kentang, permen dan beberapa jenis buah-buahan. Bahkan lemak dan protein juga menyumbang 30-40 persen kebutuhan energi.

Hal ini ditekankan oleh Head of Division Nutrifood Research Center, Susana, STP., M.Sc., PDEng saat menjadi pembicara dalam acara bincang media dengan tema 'Nutrisi Seimbang untuk Cegah dan Atasi Diabetes', Selasa (11/5/2010) di Jakarta.

Pada penderita DM, terjadi gangguan fungsi insulin sehingga tidak mampu menyalurkan gula darah hasil penguraian karbohidrat ke sel, untuk diubah menjadi energi. Karenanya, kelebihan konsumsi karbohidrat akan membuat kadar gula darah meningkat.

Untuk mencegah penumpukan gula di darah, maka konsumsi gula dan karbohidrat harus dibatasi. Penyajiannya dalam menu makan hendaknya cukup 60-70 persen dari kebutuhan energi.

Mudahnya, jika 1/4 dari porsi makan diisi karbohidrat maka kebutuhan energi sudah tercukupi. Lauk pauk cukup 1/4 porsi, dan porsi paling besar yakni 1/2 adalah jatah untuk sayur-sayuran.

Sayuran mengandung banyak serat, salah satu bentuk karbohidrat yang tidak diserap oleh tubuh. Selain baik untuk perncernaan, sayur memiliki Glycemic Index (GI) dan Glycemic Load (GL) yang sangat rendah sehingga baik untuk orang yang mengalami gangguan fungsi insulin.

GI merupakan angka yang menunjukkan seberapa cepat kenaikan kadar gula dalam darah dalam tubuh setelah mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat. Dikatakan memiliki GI rendah jika nilainya 0-55, sedang jika nilainya 56-69, dan tinggi jika nilainya 70 ke atas.

Sedangkan GL merupakan hasil perkalian GI dengan jumlah karbohidrat dalam sekali penyajian, dihitung dengan rumus: (GI/100) x jumlah karbohidrat. Dikatakan rendah jika nilainya 0-10, sedang jika nilainya 11-19, tinggi jika nilainya lebih dari 20.

Dua jenis makanan dengan GI sama bisa saja memiliki GL berbeda, misalnya semangka dengan donat. Sama-sama memiliki GI sebesar 72, tetapi komposisi semangka lebih banyak mengandung air daripada karbohidrat. Jika sama-sama disajikan dalam takaran 100 gram, maka GL semangka adalah 26 sementara GL donat 72.

Selain mengatur porsi makan, Susana juga menyampaikan beberapa tips lain seputar pembatasan konsumsi gula dan karbohidrat. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Batasi konsumsi gula pasir maksmimal 6 sendok teh perhari, atau ganti dengan pemanis buatan
Batasi porsi karbohidrat, tidak lebih dari 70 persen kebutuhan energi (kurang lebih 700 gram nasi putih)
Tingkatkan konsumsi serat

Pilih nasi merah karena karbohidratnya lebih kompleks daripada nasi putih
Pilih roti gandum utuh daripada roti putih.(detikhealth)